Pabrik Pintar Segera di Realisasikan, Kebutuhan Infrastruktur dan Genset Meningkat

Posted on

Pabrik Pintar Segera di Realisasikan, Kebutuhan Infrastruktur dan Genset Meningkat

Kemampuan untuk beroperasi lebih cepat, lebih hemat biaya dan lebih inovatif sudah menjadi hal utama bagi para manufaktur di industri yang terus berkembang saat ini. Merujuk pada hasil studi terbaru UNIDO (United Nations Industrial Development Organization atau Organisasi Pengembangan Industri PBB), Indonesia kini adalah salah satu dari 10 negara manufaktur berpengaruh di dunia. Indonesia memiliki potensi yang semakin besar untuk meningkatkan volume dan kualitas ekspor dengan mengadopsi revolusi industri 4.0. Isu ini dibahas dalam workshop Omron bertajuk “Otomatisasi Industri Membuka Pintu Kehadiran Pabrik­Pabrik Pintar di Indonesia” yang digelar di Jakarta, Selasa (31/5).

Budi Sutanto, Managing Director PT Omron Electronics Indonesia, mengatakan industri manufaktur saat ini mulai memasuki revolusi industri keempat, atau industri 4.0, yang ditandai dengan terjadinya konvergensi dari sistem fsik dan siber yang saling terhubung melalui Internet of Things (IoT). “Ini memperlebar jalan menuju pabrik pintar dan otomatisasi di semua lini. Akibatnya kebutuhan akan infrastruktur juga semakin meningkat pula, karena tanpa infrastruktur yang baik pabrik pintar tidak akan terwujud. Begitu juga mengenai instalasi listrik, pabrik pintar membutuhkan listrik yang terus menerus selama 24 jam. Oleh karenanya banyak pabrik pintar yang membutuhkan genset. Salah satu genset populer yang sering digunakan adalah genset perkins. Harga genset perkins untuk pabrik pun bisa dibilang tidak murah Meski baru pada tahap awal, Industri 4.0 menghadirkan cara baru bagi industri untuk beroperasi melalui integrasi antara tren dan teknologi,” ungkapnya. Menurut pria yang disapa Sutanto ini, pembentukan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) akan menciptakan pasar dengan potensi jumlah konsumen yang hampir mencapai 700 juta orang, hampir 10% dari total populasi dunia. Ia melihat Indonesia sebagai negara ASEAN yang memiliki potensi terbesar menjadi penghubung industri manufaktur di kawasan ini. Namun tantangannya, dia melanjutkan, pada saat sektor manufaktur berusaha mengurangi biaya operasional, memperpendek siklus penyediaan barang dan melancarkan kegiatan operasional, pada saat bersamaan sektor manufaktur juga dituntut untuk meningkatkan produktivitas.

 

“Salah satu solusi mengatasi tantangan tersebut adalah dengan meningkatkan penggunaan otomatisasi industri,” tukasnya. Kemajuan yang dicapai otomatisasi industri menciptakan berbagai mesin dan proses yang sepenuhnya digital dan terhubung satu sama lain melalui serangkaian sensor dan perangkat lunak canggih. Otomatisasi industri memberi kecerdasan dan kemampuan menganalisa pada mesin­mesin dan proses­proses tersebut, sehingga mereka dapat beroperasi sendiri secara otomatis, dan yang lebih penting, berinteraksi secara dinamis satu dengan lainnya. Dengan kecerdasan tersebut, mesin­mesin dapat bekerja sama menyelesaikan beragam pekerjaan yang kompleks, secara akurat mengantisipasi kapan perawatan mesin harus dilakukan, bahkan dapat bereaksi dengan tepat terhadap gangguan tak terduga dalam proses produksi. Aliran data yang terus menerus diperbaharui juga memberikan informasi penting tentang kondisi dan kinerja pabrik pintar itu. Data­data tersebut nantinya dapat dianalisa demi peningkatan efsiensi operasional tahap selanjutnya. Dimensi lain dari otomatisasi industri adalah kemampuan untuk merespon permintaan pasar dengan lebih cepat, lebih akurat, dan dengan biaya yang lebih efsien. Demi mendukung otomatisasi industri di Indonesia, Omron membangun fasilitas Automation Center (ATC) untuk menunjukkan serangkaian teknologi otomatisasi tercanggih di dunia.

 

Di ATC tersebut, para pakar otomatisasi dari Omron bersama­sama dengan perwakilan industri manufaktur menguji dan melakukan verifkasi ide­ide produk dan mesin baru yang sesuai dengan kebutuhan industri manufaktur. ATC bersinergi dengan industri manufaktur untuk mengatasi masalah­masalah yang dihadapi industri. Pembicara lain yang tampil dalam workshop tersebut adalah Ayyasy Azzurqi, Project Management Department Head PT Astra Otoparts Winteq Division dan Sofyan Tan, Head of Program Automotive & Robotics Engineering, BINUS ASO School of Engineering. Ayyasy Azzurqi mengutarakan bahwa yang menjadi tujuan otomatisasi industri di PT Astra Otoparts adalah peningkatan produktiftas dan efsiensi biaya produksi. Perusahaan ini bermitra dengan Omron untuk penerapan otomatisasi tersebut. “Partnership kami dengan Omron melahirkan produk otomasi yang akurat, handal, user friendly, dan ft to purpose yang mendukung tujuan otomasi itu,” ujarnya. Sementara Sofyan Tan menegaskan bahwa dalam dunia industri, pemanfaatan otomatisasi dalam organisasi menciptakan peluang yang lebih menjanjikan untuk bersaing secara global. Omron yakin bahwa otomatisasi industri akan menciptakan momentum perkembangan pabrik pintar di Indonesia. Industri manufaktur di sektor­sektor seperti otomotif, makanan dan minuman, dan produk konsumen lainnya sedang melakukan investasi lebih besar untuk meningkatkan kapasitas produksi dan memenuhi permintaan yang semakin tinggi akibat daya beli konsumen yang semakin besar pula.